Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong transformasi besar dalam dunia kerja dan industri. Kondisi tersebut menuntut pendidikan vokasi, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), untuk menyesuaikan sistem pembelajaran agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Pemanfaatan AI dalam pendidikan SMK dinilai strategis karena mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, ketepatan asesmen kompetensi, serta efisiensi pengelolaan satuan pendidikan. Untuk memperkuat pemahaman terkait integrasi teknologi tersebut, Direktorat SMK di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen menjalin kerja sama dengan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) melalui seminar internasional bertema integrasi AI dalam pendidikan dan pelatihan vokasi.

Melalui forum tersebut, Kemendikdasmen menekankan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam mendukung daya saing industri dan pertumbuhan ekonomi. Integrasi AI dalam sistem pendidikan dan pelatihan kejuruan dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk membentuk sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, serta memiliki tanggung jawab etis dalam pemanfaatan teknologi.

“Mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan strategis. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, transformasi digital tetap inklusif dan mudah diakses,” ucap Dirjen Tatang di Jakarta, pada Selasa (3/2).

Penerapan AI juga membuka peluang pengembangan pembelajaran yang lebih personal, penilaian yang adaptif, serta pemetaan kompetensi secara real time. Pendekatan ini diharapkan mampu memastikan kurikulum SMK tetap selaras dengan dinamika industri global yang terus berkembang, sekaligus memperkuat kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja saat ini dan masa depan.

“Kita harus memastikan bahwa lulusan kita tidak hanya siap kerja saat ini, tetapi juga siap menghadapi ekonomi masa depan. Seminar ini menjadi wadah untuk berbagi dan mendiskusikan strategi masa depan dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistem TVET di berbagai negara,” terang Dirjen Tatang. 

Di sisi lain, kerja sama internasional dengan KRIVET menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dan berbagi praktik baik dalam pengembangan pendidikan vokasi. Kolaborasi ini dipandang penting untuk merumuskan strategi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga sistem TVET di Indonesia dapat terus beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan industri global.

Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 88/sipers/A6/II/2026