Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Program ini mulai diintegrasikan dengan penguatan nilai dan karakter siswa melalui berbagai kegiatan pendamping dalam proses pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa MBG dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan secara langsung dalam keseharian siswa. Melalui program tersebut, siswa didorong untuk membangun kebiasaan baik yang sejalan dengan konsep 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).
Menurutnya, kegiatan makan bersama di sekolah dapat dimanfaatkan untuk menanamkan sejumlah nilai seperti disiplin, kebersamaan, serta kepedulian terhadap kesehatan. Dengan cara itu, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai dukungan pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang membentuk perilaku positif sejak dini.
“Berdasarkan hasil penelitian kolaboratif dengan LabSosio UI, program MBG membantu murid meningkatkan motivasi belajar, memberikan pengalaman menyenangkan bagi siswa baik dari produk maupun saat makan bersama, juga memberikan kesempatan bagi siswa dari kelompok sosio-ekonomi rendah mendapatkan pangan yang bergizi,” jelasnya.
Secara nasional, implementasi program MBG telah menjangkau sekitar 49,6 juta siswa atau sekitar 93 persen dari total peserta didik di Indonesia. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa program ini telah menjadi salah satu intervensi pendidikan dan kesehatan terbesar yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk mendukung pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menyiapkan berbagai perangkat pendukung. Di antaranya berupa modul edukasi serta pedoman pelaksanaan MBG yang dirancang agar dapat diterapkan secara terintegrasi dengan kegiatan belajar di sekolah.
Selain itu, penguatan program ini juga dikaitkan dengan rencana peningkatan anggaran pendidikan pada 2026. Dukungan anggaran tersebut tidak hanya difokuskan pada penyediaan makanan bergizi bagi siswa, tetapi juga diarahkan pada revitalisasi satuan pendidikan serta pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.
Pelaksanaan MBG juga melibatkan dukungan lintas sektor dari berbagai kementerian dan lembaga. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan program berjalan efektif, mulai dari penyediaan bahan pangan, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan yang diterima siswa.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai kecukupan gizi bagi peserta didik merupakan faktor penting dalam mendukung kualitas sumber daya manusia di masa depan. Asupan gizi yang memadai dinilai dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar sekaligus mendukung perkembangan fisik dan kognitif anak.
Karena itu, pemerintah terus mendorong perbaikan dalam implementasi program MBG agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, sistem distribusi, serta mekanisme pengawasan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Ke depan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas pelaksanaan program dengan memperkuat koordinasi antara sekolah, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya. Langkah tersebut dilakukan agar program MBG dapat berjalan berkelanjutan sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan pendidikan siswa.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14845-mendikdasmen-mbg-bagian-dari-pendidikan-karakter-siswa )