Bandung Barat — Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, bukan hanya menyisakan duka dan kerusakan fisik, tetapi juga tantangan besar bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak. Di tengah kondisi darurat tersebut, upaya menjaga agar proses belajar tidak terhenti menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) Gogot Suharwoto bergerak cepat memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan hak atas pendidikan, meskipun situasi belum sepenuhnya pulih. Langkah ini diambil sebagai respons atas dampak longsor yang turut memengaruhi satuan pendidikan dan peserta didik di sekitar lokasi kejadian.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana tanah longsor di Kabupaten Bandung Barat. Saat ini, koordinasi terus dilakukan untuk memastikan bantuan dapat segera disalurkan kepada warga dan satuan pendidikan terdampak,” ujar Gogot dalam keterangan tertulis, 27 Januari 2026.

Koordinasi lintas pihak dilakukan sejak awal, melibatkan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat dan tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Fokus utama bukan hanya pada penyaluran bantuan darurat, tetapi juga pada pemetaan kebutuhan pendidikan agar proses belajar dapat dilanjutkan secara aman dan bertahap.

Kehilangan dua peserta didik akibat bencana menjadi pengingat bahwa pemulihan pendidikan tidak sekadar soal bangunan sekolah, melainkan juga pemulihan psikologis komunitas belajar. Karena itu, selain santunan bagi keluarga korban, Kemendikdasmen menyiapkan layanan pendampingan psikososial untuk membantu anak-anak dan pendidik menghadapi trauma pascabencana.

Sejumlah sekolah dasar di sekitar wilayah longsor sementara dialihfungsikan menjadi posko pengungsian. Kondisi ini menuntut penyesuaian dalam pelaksanaan pembelajaran. Pemerintah berupaya memastikan ruang sekolah tetap dapat kembali berfungsi sebagai tempat belajar ketika situasi memungkinkan, tanpa mengabaikan keselamatan warga.

Dalam waktu dekat, bantuan perlengkapan sekolah akan disalurkan bagi peserta didik terdampak. Langkah ini diharapkan dapat membantu anak-anak kembali belajar dengan semangat, meski harus menghadapi keterbatasan akibat bencana alam.

Pemantauan terhadap kondisi bangunan sekolah juga terus dilakukan untuk memastikan keamanan fasilitas pendidikan. Hasil identifikasi ini akan menjadi dasar penentuan langkah lanjutan, baik berupa perbaikan, relokasi sementara, maupun penyesuaian metode pembelajaran.

Upaya pemulihan pendidikan di Bandung Barat menegaskan bahwa di tengah musibah, pendidikan tetap menjadi harapan. Menjaga agar anak-anak tetap belajar adalah bagian dari proses membangun kembali masa depan, tidak hanya bagi mereka yang terdampak langsung, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.

(Tim media)