by Tim Media | Mar 9, 2026 | Warta Kiwari
Sukabumi — Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah terus dilakukan melalui perbaikan fasilitas pendidikan. Salah satu langkah tersebut terlihat di SMAN 2 Sukabumi, Jawa Barat, yang baru saja menyelesaikan program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung kondisi sekolah tersebut untuk melihat bagaimana fasilitas yang telah diperbaiki digunakan dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Perbaikan yang dilakukan mencakup berbagai ruang penting di sekolah, seperti ruang kelas, laboratorium IPA, perpustakaan, hingga ruang administrasi.
Program revitalisasi ini didukung oleh bantuan pemerintah pusat senilai sekitar Rp1,4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas yang sebelumnya mengalami kerusakan dan dinilai kurang mendukung kegiatan pembelajaran.
“Kami ingin memastikan bahwa program revitalisasi ini benar-benar memberikan manfaat bagi sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Perbaikan sarana prasarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang belajar menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas,” ujar Fajar.
Perbaikan sarana pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan efektif. Fasilitas seperti laboratorium dan perpustakaan, misalnya, dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan pemahaman materi secara lebih mendalam melalui kegiatan praktik maupun eksplorasi sumber belajar.
Selain perbaikan infrastruktur fisik, sekolah juga mulai memanfaatkan perangkat pembelajaran berbasis teknologi. Salah satunya adalah penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital yang tersedia di ruang perpustakaan. Perangkat ini memungkinkan guru menyampaikan materi dengan cara yang lebih visual dan interaktif.
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa memahami materi secara lebih menarik sekaligus menyesuaikan metode belajar dengan perkembangan teknologi digital.
Dalam waktu dekat, pemerintah juga berencana menambah dua unit perangkat papan interaktif digital untuk setiap satuan pendidikan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan teknologi pembelajaran di sekolah.
Di sisi lain, pihak sekolah merasakan perubahan yang cukup signifikan setelah revitalisasi dilakukan. Sebelumnya, beberapa fasilitas di SMAN 2 Sukabumi mengalami kerusakan cukup berat sehingga mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Bahkan terdapat ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan.
Setelah proses perbaikan selesai, kondisi sekolah menjadi lebih aman dan mendukung aktivitas pembelajaran. Lingkungan belajar yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa serta membantu guru menjalankan proses pembelajaran secara lebih optimal.
Program revitalisasi satuan pendidikan sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperbaiki kondisi fasilitas sekolah di berbagai daerah. Melalui program ini, sekolah yang membutuhkan perbaikan sarana dapat memperoleh dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak dan kondusif.
Dengan fasilitas yang lebih baik serta dukungan teknologi pembelajaran, sekolah diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14868-wamen-fajar-pastikan-fasilitas-belajar-sman-makin-berkualitas-di-sukabumi )
by Tim Media | Mar 9, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana yang cukup tinggi di wilayah Jawa Barat.
Sosialisasi tersebut diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari perwakilan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, serta guru dari jenjang PAUD hingga SMA di berbagai daerah di Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan secara daring untuk menjangkau lebih banyak peserta dan memperluas pemahaman tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.
Kepala Bagian Umum BBPMP Jabar, Mardi Wibowo, dalam pembukaannya turut menceritakan duka yang dialami warga sekolah di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, yang terdampak longsor beberapa waktu lalu.
“Sekolah bukan hanya tempat mereka untuk belajar, sekolah itu adalah tempat mereka untuk membangun mimpinya, mengantar masa depannya, sekolah adalah tempat lahirnya generasi yang suatu hari nanti akan menggantikan kita akan memimpin negeri ini, dan kita sangat berharap mereka tumbuh dalam suasana, dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan, yang penuh dengan keamanan, yang penuh dengan kenyamanan,” ujar Mardi saat membuka acara secara resmi
Langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan budaya keselamatan di satuan pendidikan, terutama setelah beberapa wilayah di Jawa Barat mengalami peristiwa pergerakan tanah dan longsor dalam waktu terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah juga perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi.
Dalam kegiatan tersebut, pihak BBPMP Jawa Barat menekankan bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang yang harus memberikan rasa aman bagi seluruh warga sekolah. Lingkungan pendidikan yang aman dinilai sangat penting agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik dan siswa dapat berkembang secara optimal.
BBPMP Jawa Barat juga menampilkan dokumentasi kondisi salah satu sekolah yang terdampak bencana longsor di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana fasilitas pendidikan sempat digunakan sebagai tempat pengungsian ketika terjadi bencana.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa satuan pendidikan perlu memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat. Selain kesiapan infrastruktur, kesiapsiagaan warga sekolah juga menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko saat bencana terjadi.
Salah satu guru dari SD Negeri Karyabakti di wilayah Cisarua mengungkapkan bahwa bencana yang terjadi sempat menimbulkan rasa cemas pada para siswa. Namun secara perlahan kondisi psikologis siswa mulai membaik seiring dengan dukungan dari sekolah dan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pemulihan.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi sekolah untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan bencana di masa depan.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, BBPMP Jawa Barat juga menghadirkan narasumber dari Bandung Mitigasi Hub yang memberikan pemaparan mengenai manajemen kebencanaan di lingkungan sekolah. Materi yang disampaikan mencakup langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu sekolah dalam menyusun rencana mitigasi yang lebih terstruktur. Sekolah juga didorong untuk mengenali potensi risiko bencana di wilayah masing-masing sehingga dapat menyusun langkah pencegahan yang lebih tepat.
Melalui kegiatan sosialisasi SPAB ini, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya memahami teori mitigasi bencana, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik di lingkungan sekolah. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terhadap risiko bencana.
(Tim media)