Bandung — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk pendidikan kesetaraan Paket B di SMPN 17 Bandung berlangsung lancar pada hari pertama pelaksanaan. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), termasuk peserta didik dengan kebutuhan khusus, sebagai bagian dari upaya menghadirkan asesmen yang lebih inklusif.

Pelaksanaan yang dipusatkan di satu lokasi ini menjadi strategi untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana, seperti perangkat komputer, jaringan internet, serta dukungan teknis. Sejumlah PKBM, di antaranya Guna Persada dan Nura Amalia, bergabung dalam pelaksanaan bersama agar proses ujian dapat berjalan lebih optimal.

Dari sisi penyelenggaraan, persiapan dilakukan secara bertahap, mulai dari validasi data peserta hingga penyiapan ruang ujian dan petugas teknis. Kepala PKBM Guna Persada, Ali Umar Hamdani, menyebut bahwa kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan, terutama untuk ujian berbasis digital.

“Persiapan dilakukan mulai dari verifikasi data peserta, pengaturan ruang ujian, hingga penunjukan proktor dan teknisi untuk memastikan pelaksanaan berjalan lancar,” ujarnya

Aspek inklusivitas juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan TKA. Berbagai penyesuaian disiapkan untuk memastikan peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengikuti ujian dengan baik. Fasilitas seperti perangkat dengan fitur aksesibilitas, aplikasi pendukung, hingga pendampingan dari pengawas turut disediakan selama proses berlangsung.

“Kami menyediakan fasilitas pendukung seperti perangkat dengan aksesibilitas, aplikasi pembantu, serta pendampingan dari pengawas yang telah memahami kebutuhan peserta ABK,” tambahnya.

Bagi peserta, pengalaman mengikuti TKA memberikan tantangan tersendiri. Heri Gunawan, peserta tunanetra dari PKBM Guna Persada, mengaku menghadapi ujian dengan perasaan campur aduk antara tegang dan lega setelah menyelesaikannya. Ia mempersiapkan diri melalui berbagai media belajar, seperti buku braille, audio, serta bimbingan dari guru.

Namun, ia juga mengakui adanya kendala, terutama pada soal yang bersifat visual dan penggunaan istilah tertentu yang belum familiar. Selain itu, penggunaan perangkat digital juga menjadi tantangan tersendiri tanpa adanya bantuan pendamping. Meski begitu, fasilitas yang tersedia dinilai cukup membantu selama pelaksanaan.

Hal serupa dirasakan oleh peserta lainnya, Stefhanie Yemimma Aurellia dari PKBM Yayasan Nura Amalia. Ia menilai TKA sebagai pengalaman yang cukup menegangkan, meski telah melakukan persiapan sebelumnya. Beberapa materi, seperti matematika, masih menjadi tantangan, namun tidak mengurangi semangatnya dalam mengikuti ujian.

Pelaksanaan TKA pada pendidikan kesetaraan ini berfungsi sebagai instrumen untuk memetakan capaian belajar peserta didik secara nasional. Hasil asesmen tidak digunakan sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai bahan evaluasi untuk melihat tingkat kompetensi yang telah dicapai. Keputusan kelulusan tetap berada di masing-masing satuan pendidikan.

Di Kota Bandung, jumlah PKBM yang cukup banyak dengan latar belakang peserta yang beragam menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan TKA. Kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, hingga kebutuhan penyesuaian bagi peserta berkebutuhan khusus menjadi hal yang perlu terus diperkuat. Meski demikian, dukungan dari berbagai pihak membantu menjaga pelaksanaan tetap berjalan sesuai rencana.

Pengalaman peserta juga menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan. Harapan agar waktu pengerjaan lebih fleksibel, terutama bagi peserta berkebutuhan khusus, menjadi salah satu masukan yang muncul. Dengan berbagai penyesuaian tersebut, pelaksanaan TKA diharapkan semakin mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta secara lebih optimal.

(berita ini telah tayang di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/15056-pengalaman-seru-siswa-abk-dan-paket-b-ikut-tka )