Pelaksanaan TKA di SMPN 7 Bandung Berlangsung Lancar, Tekankan Asesmen Bukan Penentu Kelulusan

Pelaksanaan TKA di SMPN 7 Bandung Berlangsung Lancar, Tekankan Asesmen Bukan Penentu Kelulusan

Bandung — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) memasuki hari ketiga pada Rabu, 8 April 2026, dengan kondisi yang relatif kondusif di SMPN 7 Bandung. Proses ujian berlangsung tertib dengan dukungan kesiapan teknis serta partisipasi aktif peserta didik yang mengikuti setiap sesi dengan baik.

Pemantauan langsung dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, untuk memastikan pelaksanaan TKA berjalan sesuai ketentuan. Kehadiran tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga integritas asesmen agar tetap berlangsung jujur, objektif, dan transparan.

Dalam kesempatan itu, Atip menegaskan bahwa TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Tes ini difungsikan sebagai instrumen untuk memetakan kemampuan akademik peserta didik secara individu, sehingga siswa diharapkan dapat mengikuti dengan tenang tanpa tekanan berlebih.

“TKA ini bukan penentu kelulusan. Tujuannya untuk mengetahui kemampuan akademik masing-masing siswa. Karena itu tidak perlu cemas. Ini tes, bukan ujian. Dalam hidup kita sudah cukup banyak ujian,” ujar Wamen Atip memberi semangat kepada peserta.

Turut hadir dalam pemantauan tersebut Kepala Bagian Umum BBPMP Provinsi Jawa Barat, Mardi Wibowo, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Muhammad Yusro, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron.

Dari sisi pelaksanaan, suasana ujian menunjukkan kesiapan siswa dalam menghadapi soal. Peserta terlihat mampu mengerjakan dengan tenang dan fokus, mencerminkan kesiapan belajar yang telah dibangun sebelumnya.

Pendekatan TKA yang berfokus pada pemetaan kemampuan dinilai sejalan dengan arah kebijakan evaluasi pendidikan saat ini. Hasil asesmen diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai capaian belajar siswa, sekaligus menjadi dasar perbaikan pembelajaran di satuan pendidikan.

Kesiapan infrastruktur juga menjadi faktor penting dalam kelancaran pelaksanaan. Sekolah telah melakukan berbagai penyesuaian, termasuk penguatan jaringan internet dan peningkatan kapasitas sistem guna mendukung ujian berbasis digital.

Selain itu, pembekalan kepada guru dan siswa dilakukan sebelum pelaksanaan untuk memastikan kesiapan penggunaan sistem. Langkah ini dinilai efektif dalam meminimalkan potensi kendala teknis di lapangan.

Secara keseluruhan, pelaksanaan TKA di Kota Bandung mencerminkan kesiapan satuan pendidikan dalam mendukung kebijakan evaluasi berbasis asesmen. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.

(Tim media)

Pelepasan Pejuang Digital Dukung Transformasi Pembelajaran di Sekolah Dasar

Pelepasan Pejuang Digital Dukung Transformasi Pembelajaran di Sekolah Dasar

Sumedang – Kepala BBPMP Provinsi Jawa Barat turut menghadiri kegiatan pelepasan peserta Program Alumni Pejuang Digital yang digelar pada Selasa, 7 April 2026 di Gedung Negara Sumedang. Sebanyak 48 peserta akan menjalankan penugasan di 48 sekolah dasar yang tersebar di Kabupaten Sumedang.

Upaya percepatan digitalisasi pembelajaran terus diperkuat melalui penempatan 48 peserta Program Alumni Pejuang Digital di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Sumedang. Program ini diarahkan untuk mendukung pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar, khususnya di wilayah yang masih membutuhkan penguatan akses dan kapasitas digital.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam mendorong percepatan digitalisasi pendidikan, terutama di wilayah 3T dan daerah dengan kebutuhan khusus. Pendampingan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru serta memperkuat pengelolaan pembelajaran di tingkat sekolah.

Para peserta akan menjalankan pendampingan selama tiga bulan dengan fokus membantu guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan mencakup pemanfaatan papan interaktif digital, penggunaan bahan ajar berbasis digital, hingga pengembangan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan adaptif.

Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan di daerah menjadi faktor penting dalam mendukung pelaksanaan program ini. Sinergi antara pemerintah daerah dan satuan pendidikan diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Melalui program ini, transformasi pembelajaran di sekolah dasar diharapkan dapat berjalan lebih terarah. Pemanfaatan teknologi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.

(Tim media)