by Tim Media | Feb 19, 2026 | Warta Kiwari
Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri dan 18 gudang ketahanan pangan sebagai bagian dari percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peresmian dipusatkan di SPPG Polri Palmerah, Jakarta Barat, pada 13 Februari 2026.
Kehadiran SPPG dinilai tidak hanya mendukung pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membuka rantai pasok bagi produk pertanian dan peternakan lokal. Setiap unit layanan membutuhkan bahan pangan seperti sayur, telur, ayam, dan daging yang disuplai dari produsen di daerah, sehingga menciptakan kepastian pasar bagi petani kecil.
“Kita lihat, satu SPPG butuh sayur, telur, ayam, daging, dan sebagainya, ini menghidupkan petani-petani kecil. Mereka sekarang yakin punya penghasilan. Dulu mereka panen tidak tahu siapa yang beli, sekarang mereka dijamin, produksi mereka akan diserap,” tegas Presiden Prabowo Subianto.
Dari sisi keamanan pangan, SPPG Polri menerapkan standar pengolahan dan distribusi makanan yang ketat. Seluruh dapur dilengkapi perangkat sterilisasi dan uji keamanan pangan, sementara makanan yang akan didistribusikan harus melalui pengujian organoleptik untuk memastikan bebas dari zat berbahaya seperti formalin, nitrit, sianida, dan arsenik.
“Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis ini akan memperhatikan aspek fisik, mental, dan karakter anak-anak. Kami ingin program ini menjadi bagian integral dari upaya penguatan karakter bangsa melalui nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan kemandirian,” ungkapnya pada kesempatan berbeda.
Program MBG juga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut penyediaan makanan bergizi di sekolah diarahkan tidak hanya pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter murid melalui pembiasaan hidup sehat dan tanggung jawab.
“Kalau makan makanan yang sehat dan bergizi, anak-anak kita akan menjadi sehat dan kuat,” tuturnya
Menurutnya, lingkungan belajar yang aman dan didukung pemenuhan gizi yang memadai menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi muda menuju visi Indonesia 2045. Kebiasaan konsumsi makanan sehat diharapkan berlanjut di lingkungan keluarga agar dampaknya lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyampaikan bahwa program MBG telah menjangkau sekitar 60,2 juta penerima manfaat di 38 provinsi. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga lebih dari 80 juta penerima dalam tahap pengembangan berikutnya.
Peresmian fasilitas MBG ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk sektor pangan dan kepolisian, sebagai upaya memperluas jangkauan layanan gizi bagi peserta didik di seluruh wilayah Indonesia.
( Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/berita/14749-perkuat-program-makan-bergizi-gratis-presiden-resmikan-1179-sppg-polri-dan-18-gudang-ketahanan)
by Tim Media | Feb 19, 2026 | Warta Kiwari
Bandung Barat – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq meninjau langsung pelaksanaan revitalisasi sarana prasarana sekolah serta digitalisasi pembelajaran di SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung pada Jumat (2/6). Kunjungan ini dilakukan untuk untuk memantau pemanfaatan bantuan pemerintah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Revitalisasi Satuan Pendidikan tersebut didukung melalui anggaran sebesar Rp180 juta, yang digunakan untuk merehabilitasi dua ruang kelas baru dan satu perpustakaan. Selain revitalisasi fisik, sekolah juga menerima dukungan digitalisasi pembelajaran melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) / Interactive Flat Panel (IFP) guna mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar berinteraksi langsung dengan guru dan peserta didik di dalam kelas. Ia berdialog dengan guru mengenai pemanfaatan sarana hasil revitalisasi serta penggunaan IFP dalam pembelajaran, sekaligus menyapa dan berinteraksi dengan siswa yang tengah mengikuti kegiatan belajar untuk melihat secara langsung suasana pembelajaran.
Pada kesempatan yang sama, Wamen Fajar juga menyampaikan pesan kepada para siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini dan penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan lingkungan merupakan wujud dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bermasyarakat. Anak-anak jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, baik di lingkungan sekitar, di rumah, maupun di sekolah. Kalau ada sampah, buanglah pada tempatnya, dan jika sampah tersebut bisa didaur ulang, maka manfaatkan untuk didaur ulang. Di mana pun berada, kebiasaan menjaga kebersihan harus terus dilakukan,” ujar Fajar.
Kepala SD Yayasan Amal Keluarga, Asep Miftahudin, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Pada masa pandemi COVID-19, sekolah hampir libur total selama kurang lebih dua tahun sehingga banyak bangunan dan infrastruktur mengalami kerusakan dan tidak terurus.
“Keadaan sekolah itu memang sangat memprihatinkan karena pada masa COVID-19 sekolah kami hampir libur total selama dua tahun. Kondisi ini jelas mengganggu proses pembelajaran karena sekolah digunakan aktif oleh anak-anak. Kami juga khawatir apabila tidak diperbaiki akan berdampak pada keberlangsungan belajar, bahkan keselamatan anak-anak, karena kondisi bangunan terutama atap sudah rusak parah,” ujar Asep.
Ia menuturkan bahwa kerusakan paling parah terjadi pada perpustakaan dan ruang kelas yang kemudian direhabilitasi. Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah sempat mengevakuasi siswa dan memindahkan kegiatan belajar ke ruang kelas lain, yang juga dikeluhkan oleh siswa karena ruang belajar yang tersedia tidak sesuai dengan harapan mereka.
Melalui program revitalisasi, kondisi sekolah kini mengalami perubahan signifikan. Dua ruang kelas dan perpustakaan yang sebelumnya rusak telah direhabilitasi dan kembali dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Alhamdulillah, setelah ada program revitalisasi, sekolah kami sudah bisa digunakan kembali oleh anak-anak untuk belajar. Hari ini sudah dipakai dan anak-anak terlihat gembira, nyaman, dan sangat bersemangat untuk bersekolah. Guru-guru juga mengucapkan terima kasih, khususnya kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri, Bapak Wakil Menteri, serta para kepala dinas terkait. Bantuan revitalisasi ini sangat membantu sekolah kami,” Ujarnya.
Terkait digitalisasi pembelajaran, Asep menyampaikan bahwa kehadiran IFP membawa dampak besar bagi proses belajar mengajar dan menyesuaikan karakter peserta didik dengan perkembangan zaman.
“Wah, kehadiran IFP sangat luar biasa. Anak-anak senang. Di satu sisi ini memudahkan guru, dan di sisi lain juga memudahkan anak-anak. Anak-anak jadi lebih aktif dan kritis ketika pembelajaran menggunakan IFP. Beda dengan dulu, kemajuannya luar biasa. Anak-anak gembira dan lebih mudah belajar karena ini sesuai dengan tuntutan zaman dan karakter anak-anak sekarang yang sudah akrab dengan dunia digital,” ungkapnya.
Dampak positif digitalisasi pembelajaran juga dirasakan oleh guru kelas IV, Murti Kurnia. Ia menyampaikan bahwa penggunaan IFP meningkatkan antusiasme dan motivasi belajar siswa.
“Setelah ada IFP, anak-anak lebih antusias. Jadi belajar menyenangkan. Dulu juga anak-anak belajarnya menyenangkan, tapi tidak seperti sekarang. Banyak hal baru yang mereka temukan dari pelajaran. Anak-anak jadi ceria dan semangat. Bahkan ada anak-anak yang tadinya malas sekolah, sekarang jadi senang sekolah karena ingin belajar di TV besar,” tambahnya.
Menurutnya, digitalisasi pembelajaran sangat penting agar peserta didik tidak tertinggal perkembangan zaman dan tetap memiliki kesempatan belajar yang setara. “Sekarang sudah masuk era globalisasi. Anak-anak harus belajar bernalar kritis, jadi digitalisasi pembelajaran sangat penting supaya mereka tidak ketinggalan zaman. Tidak semua anak punya handphone, sehingga pembelajaran digital di sekolah sangat membantu,” tuturnya.
Dampak pembelajaran berbasis digital juga dirasakan langsung oleh peserta didik. Jovinka, siswa kelas II SD Yayasan Amal Keluarga, ia mengaku senang belajar menggunakan IFP karena membuat pembelajaran terasa lebih menyenangkan. “Aku suka belajar matematika di kelas pakai IFP karena seru, bisa sambil main game bareng teman-teman,” ujar Jovinka. (D)
(Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14705-revitalisasi-satuan-pendidikan-dan-digitalisasi-pembelajaran)
by Tim Media | Feb 19, 2026 | Warta Kiwari
Kota Bandung – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengunjungi SMP Negeri 70 Bandung dan melaksanakan kegiatan Jumat Bersih bersama siswa dan guru. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Senam Anak Indonesia Hebat, aksi gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, serta peninjauan langsung pembelajaran di kelas pada Jumat (6/2).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya kebiasaan bermasyarakat, yang ditanamkan melalui praktik nyata kepedulian terhadap lingkungan, kerja sama, dan tanggung jawab bersama sebagai komunitas sekolah. Dalam pelaksanaan Jumat Bersih, Wamen Fajar turut terlibat langsung membersihkan halaman sekolah, serta mengikuti kegiatan pemilahan sampah bersama anak-anak dengan pendampingan para guru. Kegiatan berlangsung secara gotong royong dan disambut antusias oleh para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fajar menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Bersih sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yang menekankan nilai Aman, Sehat, Resik, dan Indah melalui pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar.
“Kita semua punya kepedulian dengan lingkungan kita. Bermasyarakat bukan hanya ngobrol-ngobrol, tapi juga kita punya kepedulian dengan lingkungan, termasuk peduli dengan sampah. Jadi kalau ada gerakan Jumat bersih, itu bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, contoh dari bermasyarakat yang baik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wamen Fajar menekankan pentingnya membangun kebiasaan baik dalam menjaga kebersihan secara konsisten melalui keteladanan dan kedisiplinan diri seperti dengan membawa tas belanja dari rumah untuk mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja. “Untuk kebersihan lingkungan memang tidak gampang. Semua itu dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari hal-hal kecil, enggak usah yang besar-besar. Jadi semua hal yang besar dimulai dari kebiasaan yang kecil dan dimulai dari mendisiplinkan diri sendiri,” jelasnya.
Pelaksanaan Jumsih tidak hanya menumbuhkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran awal bagi siswa dalam memahami pengelolaan sampah. Melalui kegiatan ini, siswa dibiasakan tidak hanya memungut sampah, tetapi juga mulai mengenali pentingnya memilah sampah sebagai bagian dari tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wali Kota Bandung, Farhan menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber sebagai langkah mendasar dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. “Sampah itu kalau tidak dipilah maka akan tercampur dan tidak bisa diolah. Kalau sampah tidak dipilah, kita tidak bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk dan tidak bisa mengolah sampah plastik untuk didaur ulang menjadi barang-barang yang lebih berguna. Itu sebabnya sampah harus dipilah dan diolah,” tegas Farhan.
Kepala SMP Negeri 70 Bandung, Entang menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Bersih telah menjadi bagian dari pembiasaan karakter siswa yang dilaksanakan secara rutin di sekolahnya. “Jumsih ini Pembelajaran bagi siswa-siswi terkait kepedulian terhadap lingkungan telah kami lakukan secara rutin melalui Jumsih yang disertai dengan program-program lain seperti Senam Anak Indonesia Hebat dan MBG. Kegiatan ini juga terkait dengan tujuan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan kami biasakan untuk membentuk karakter siswa agar peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SMP Negeri 70 Bandung, Deri, menambahkan dalam menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kebersihan dan lingkungan sekolah kegiatan Jumat Bersih telah menjadi bagian dari pembiasaan yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah.
“Sekolah sudah menjadwalkan kegiatan Jumat Bersih sejak awal semester dan sudah tercantum dalam jadwal KBM. Ada gerakan Sikancil (Siswa Cinta Lingkungan), terutama dalam membersihkan lingkungan sekolah setiap hari dan membiasakan diri memungut sampah,” ujar Deri.
Antusiasme juga terlihat dari para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah satu siswa, Raisa, mengaku senang mengikuti Jumat Bersih bersama teman-temannya. Kegiatan Jumat Bersih dan Senam Anak Indonesia Hebat juga disambut antusias oleh para siswa. Selain berolahraga dan membersihkan lingkungan sekolah, para siswa turut melakukan ceklist 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai bagian dari pembiasaan karakter.
Salah satu siswa kelas VI, Raisa, menyampaikan bahwa kegiatan Jumat Bersih membuat lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan nyaman. “Setiap minggu kami bersih-bersih kelas dan lingkungan sekolah. Jumsih Ini penting supaya sekolah bersih, nyaman, dan enak buat belajar biar ga banyak nyamuk,” ujar Raisa.
Sementara itu, Hasan, siswa kelas VI, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan bersih-bersih bersama Wamen Fajar dan teman-temannya sekolahnya. “Saya sangat senang bisa bersih-bersih sekolah bareng Pak Wamen dan teman-teman. Kegiatannya seru, setelah senam badan jadi segar dan lingkungan sekolah jadi bersih,” kata Hasan. (D)
(Berita ini telah ditayangkan di https://kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/14703-wamen-fajar-dorong-kebiasaan-bermasyarakat-melalui-jumat-ber)